6 Penyebab Kelangkaan Anoa di Indonesia

Perlu diketahui bahwasanya anoa merupakan salah satu hewan yang unik dimana hidup di tanah Indonesia. Untuk bentuknya bisa dikatakan mirip seperti banteng jawa, hanya saja bentuknya terlihat tidak terlalu kokoh dan ada beberapa ciri khas lain yang dimiliki oleh masing-masing hewan.

Untuk anoa sendiri menjadi mamalia terbesar dan endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton, akan tetapi sekarang ini sudah tidak lagi banyak ditemukan alias langka banget. Sebagian kalangan juga menyebut anoa sebagai kerbau kerdil, dan berikut ini pembahasan mengenai penyebab kelangkaan anoa.

1. Perburuan Liar

Jelas yang pertama adalah perburuan liar yang masih marak terjadi di berbagai tempat walaupun pada dasarnya hal ini sudah dilarang oleh pemerintah. Banyak kalangan yang tetap melakukan perburuan terhadap hewan ini dengan tujuan mengambil keuntungan dari daging, tanduk, dan beberapa bagian lain.

Dan hal serupa juga menjadi penyebab kelangkaan burung cendrawasih dimana pada dasarnya bisa menjadi hiasan alam yang luar biasa. Dengan demikian beberapa lembaga perlindungan hewan sudah mulai melakukan karantina terhadap beberapa spesies tersebut untuk dikembang biakkan serta melindungi.

2. Penebangan Hutan

Bukan cuman karena perburuan liar saja, melainkan penebangan hutan yang masih terbilang besar skalanya menjadi permasalahan sendiri bagi ekosistem atau habitat dari anoa sendiri. Dikarenakan mereka tidak akan berkehidupan bebas di tempat yang terbuka.

Jelas saja mereka akan berada di semak-semak, pepohonan atau sekitaran tumbuhan yang lain demi mendapatkan suplai makanan serta menjadikannya sebagai tempat perlindungan dari perburuan liar ataupun mangsa oleh hewan lain dalam rantai makanannya.

3. Habitat Asli Sudah Lenyap

Kurang lebih sama seperti jenis gajah di dunia dimana kehidupan anoa juga berada di rawa-rawa demi mendapatkan pasokan makanan yang cukup serta melindungi diri dari ancaman predator. Namun karena kejadian penebangan hutan dan banyaknya relokasi sebagai tempat pemukiman menjadikan habitatnya kini sudah lenyap.

Walaupun sebenarnya kehidupannya berpindah-pindah, akan tetapi tentu daerah tujuan berikutnya belum tentu aman bagi keberlangsungan populasinya, dan bisa jadi anoa akan mati dengan mudah termakan oleh zaman dan perilaku manusia dalam tanda kutip “penebangan liar”.

4. Laris Dijual Belikan

Dikarenakan kandungan serat dan gizi serta cita rasa lezat dari daging anoa menjadikan hewan ini laris manis diperjual belikan oleh para pemburu liar. Bukan cuman itu saja, melainkan tanduknya juga bisa dijadikan sebagai aksesoris, begitu juga dengan kulitnya.

Sebenarnya masih ada sapi yang bisa menjadi penggantinya, dimana sampai sekarang juga masih bisa diterapkan cara ternak sapi skala rumahan, yang juga punya tanduk, kulit dan daging. Namun ada beberapa cita rasa khas dari anoa yang menjadikannya lebih menarik.

5. Sumber Makanan Menipis

Masih berkaitan dengan penebangan liar, dimana ketika banyak pohon ditebang dan penggundulan hutan, tentu saja tanaman disekitaran lambat laun akan mati. Dengan demikian, anoa akan kekurangan suplai makanannya.

Dan kehidupannya yang berpenguasaan menjadikan perpindahan anoa terkesan lamban, sehingga mereka bisa kekurangan sumber makanan juga yang berujung kematian. Beda halnya ketika sudah dirawat dengan baik, dimana suplai makanannya jelas akan terjaga.

6. Faktor Alam

Dan poin terakhir yang bisa menjadi penyebab kelangkaan anoa adalah faktor alam, dimana mereka sudah tidak lagi bisa berkembang biak dengan baik lagi karena tingkat kepadatan penduduk yang semakin tinggi.

Walaupun pada dasarnya tidak ditebang atau penggundulan hutan sekalipun, ketika sudah terjadi faktor alam seperti bencana, penyakit atau mungkin beberapa hal lain, bisa menjadikan hewan ini tidak lagi dapat bertahan hidup dengan aman dan tenang.

Oleh karenanya kalau tidak dilakukan perawatan manual seperti cara penangkaran elang jawa seperti itu, maka kehidupannya akan semakin terancam. Sebab untuk kesehatan dan jaminan keselamatan anoa di alam juga tidak bisa dikendalikan dengan baik, walaupun sudah dilakukan monitoring sekalipun.

Mengenal Jenis Anoa

Sekilas tentang jenis anoa, dimana hewan ini ada dua spesies yang berbeda, yaitu Anoa Pegunungan (Bubalus Quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus Depressicornis). Dimana untuk kedua ini awalnya dianggap sama, kurang lebih.

Akan tetapi berdasarkan penelitian terbaru yang menggunakan teknik DNA barcode, diketahui kalau ternyata keduanya merupakan spesies yang berbeda. Kedua jenis tersebut juga tinggal di dalam hutam yang tidak dijamah banyak manusia.

Selain itu kedua jenis anoa ini juga merupakan binatang agresif sehingga tidak bisa dijinakkan dengan mudah untuk dijadikan hewan ternak seperti cara ternak sapi sukses misalnya. Dan kedua jenis tersebut memiliki perbedaan berdasarkan bentuk tanduk dan juga ukuran tubuhnya.

Anoa gunung memiliki tubuh yang relatif kecil dengan ekor pendek dan lembut, dan tanduknya melingkar. Sedangkan untuk anoa dataran rendah ukurannya lebih besar, ekor panjang, warna kaki putih, memiliki taduk kasar dengan penampang segitiga.

Itulah berbagai macam penyebab kelangkaan anoa lengkap beserta jenis-jenis anoa yang bisa dikenali lebih mendalam. Ketika manusia menjaga lingkungan alam dan tidak melakukan penebangan secara liar, tentau saja hewan eksotis dan unik semacam ini tidak akan punah dengan mudahnya.