Gajah Sumatera: Pengertian, Status, Ciri-Ciri

Gajah merupakan mamalia darat terbesar yang masih ada di dunia ini, dimana gajah ini merupakan hewan bersejarah yang masih hidup di jaman modern saat ini. Akan tetapi sekarang kehidupan dari gajah ini pun mulai terancam punah akibat ulah tangan jail manusia.

Dan salah satu spesies gajah asli Indonesia yang masih bertahan sampai saat ini adalah Gajah Sumatera, dimana mungkin masih banyak orang yang tidak tahun akan peran dari satwa gajah ini dalam memelihara lingkungan hidup. Berikut penjelasan mengenai Gajah Sumatera sebagai hewan yang perlu dilindungi dan perlu anda ketahui.

Pengertian Gajah Sumatera

Gajah Sumatera merpakan salah satu sub spesies Gajah Asia dengan nama ilmiah Elephas Maximus Sumatranus. Sesuai namanya, habitat asli dari hewan ini berada di Pulau Sumatera dan saat ini kondisi dari mamalia darat terbesar didunia tersebut sangat mengkhawatirkan dan bahkan masuk dalam daftar merah IUCN.

Habitat dari Gajah Sumatera ini adalah hutan alam di pulau Sumatera yang kini sedang mengalami kerusakan sangat parah, dengan kondisi tersebut membuat mereka kehilangan sebagian tempat tinggalnya. Jika kondisi ini terus terjadi, maka bisa mengancam kelangsungan hidup dari satwa endemic tersebut.

Gajah Sumatera ini hidupnya berkelompok, dan mereka merupakan hewan nokturnal yang menghabiskan waktunya mencari makan pada saat malam hari, dan istirahat pada saat siang hari. Dalam sehari semalam, salah satu hewan paling berbahaya di Asia ini mampu berjalan sejauh 20 KM untuk mencari makan.

Gajah ini memiliki sistem pencernaan yang buruk, sehingga membuat mereka buang kotoran setiap 1 jam sekali, dengan begini maka tanaman pun bisa mendapatkan pupuk alami dari kotoran gajah tersebut agar bisa tumbuh bersemi.

Sejarah Gajah Sumatera

Gajah Sumatera ini masuk kedalam  keluarga Elephantidae yang tergolong dalam genus Elephas. Untuk kawasan Asia memiliki Elephas Maximus yang terdiri dari tiga sub spesies, diantaranya Elephas Maximus Indicus, Elephas Maximus Maximus, dan yang terakhir adalah Elephas Maximus Sumatranus.

Selain Gajah Sumatera, di Indonesia sendiri ini juga masih ada spesies lainnya yakni Gajah Kalimantan yang masuk dalam golongan Elephas maximus indicus. Akan tetapi dalam keterangan lain dikatakan jika Gajah Kalimantan ini merupakan sub spesies sendiri yang dikenal dengan nama Elephas maximus bornensis.

Ciri-ciri Gajah Sumatera

Bagi mereka yang awam, mungkin menganggap jika semua gajah ini memiliki bentuk fisik yang sama, namun sebenarnya ada beberapa perbedaan Gajah Sumatera dengan gajah afrika ataupun spesies lain yang perlu anda pahami, diantaranya:

  • Gajah Sumatera ini memiliki tinggi sekitar 2 – 3 meter
  • Gajah Sumatera dewasa memiliki berat tubuh mencapai 3 – 5 ton
  • Dibandingkan sub spesies Gajah Asia lainnya, Gajah Sumatera ini memiliki warna kulit yang lebih terang dengan dibagian kupingnya terdapat depigmentasi yang menunjukkan seperti flek putih kemerahan
  • Gajah Sumatera jantan yang memiliki gading berukuran panjang, sementara untuk si betina memiliki gading berukuran pendek yang hampir tidak kelihatan
  • Gajah Sumatera memiliki dua tonjolan dibagian atas kepalanya, sehingga membuat mereka berbeda dengan Gajah Afrika
  • Untuk kuping Gajah Sumatera ini berbentuk segitiga dengan ukuran lebih kecil dari Gajah Afrika
  • Gajah Sumatera ini memiliki 4 kuku dibelakang dan 5 kuku dibagian kaki depan

Gajah Sumatera ini sering kali ditemukan di dataran rendah dengan ketinggian mencapai 300 mdpl, namun tak jarang juga bisa menemukan gajah ini di dataran tinggi, dimana mereka sangat suka dengan kawasan rawa maupun hutan gambut.

Di Indonesia sendiri, populasi dari Gajah Sumatera ini tersebar di 7 propinsi yang terdiri dari Nangroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan serta Lampung. Pada tahun 2007 lalu, populasinya diperkirakan mencapai 2400 – 2800 ekor, dan ini merupakan penurunan dibanding tahun 1985 yang mencapai 4.800 ekor.

Saat ini kemungkinan populasinya bisa berkurang lagi, dikarenakan adanya pemburuan liar, serta habitat aslinya yang terus menyempit. Dalam 25 tahun terakhir, tercatat jika Pulau Sumatera ini telah kehilangan sekitar 70% luas hutan tropis, dan itulah yang menjadi salah satu penyebab kelangkaan gajah sumatera.

Perilaku Reproduksi

Untuk Gajah jantan ini memiliki periode bernama musth, ini merupakan periode masa produksi hormone testosterone, dalam peride ini menjadi pertanda jika gajah jantan sudah siap untuk kawin. 

Pada umumnya, gajah akan melalui masa ini pada saat usia mereka mencapai 12 – 15 tahun, terkadang saat gajah dalam masa ini akan di iringi dengan perubahan perilaku.

Perubahan yang dimaksud ini mulai dari nafsu makan menurun, lebih agresif, hingga suka mengendus dengan memakai belalainya. Selain itu ada juga perubahan fisik seperti alat kelamin sering keluar, sering meneteskan urin, dan pada dahinya mengeluarkan kelenjar berbau yang begitu menyengat.

Sementara itu, untuk gajah betina sudah siap melahirkan anak ketika mereka berusia 9 -10 tahun. Untuk usia kehamilan dari gajah ini sangat lama, yakni mencapai 22 bulan, dan hal inilah yang membuat populasi gajah harus dilindungi.

Dalam satu kehamilan umumnya gajah bisa melahirkan satu bayi, namun dalam sejumlah kasus ada juga gajah yang bisa melahirkan dua bayi sekaligus. Untuk waktu jarak kehamilan dari gajah ini bisa mencapai 4 – 4.5 tahun.

Dengan mempelajari dan memperhatikan masa perkembang biakannya seperti ini menjadikan manusia bisa lebih mengerti bagaimana menghasilkan keturunan secara terus menerus guna menerapkan cara melestarikan gajah agar bisa bertahan lebih lama.

Perilaku Makan

Makanan dari Gajah Sumatera ini masih sama dengan spesies lain, seperti daun, ranting, rerumputan, umbi-umbian, hingga buah-buahan. Ada sekitar 69 spesies tumbuhan yang bisa dimakan oleh gajah ini, yang terdiri dari 29 kelompok rerumputan, dan 40 lainnya kelompok tanaman non-rumput.

Karena sistem pencernaan gajah yang sangat buruk, membuat gajah ini seringkali buang kotoran setiap satu jam sekali. Maka dari itu, Gajah Sumatera ini butuh makanan hingga 230 kg atau sekitar 5-10% dari bobot tubuhnya.

Sementara untuk minumnya membutuhkan 160 liter air setiap hari, dan ketika musim kemarau, Gajah Sumatera ini mampu menggali air di dasar sungai hingga kedalaman 1 meter. Kenali juga beberapa hewan darat yang bisa berenang, bahkan jago ketika berada di dalam air.

Status Perlindungan

Gajah Sumatera ini pada tahun 2011 telah ditetapkan IUCN kedalam kategori Critically Endangered, yang berarti satwa tersebut diambang kepunahan. Di Indonesia sendiri hewan tersebut memiliki kekuatan hukum yang tercatat pada UU No.5 tahun 1990 dan PP 7/1999.

Perilaku Sosial

Gajah ini merupakan hewan yang hidupnya berkelompok, dimana dalam satu kelompok bisa terdiri dari 20 – 25 ekor, namun ada juga kawanan yang hanya terdiri dari 3 ekor saja. Dalam setiap kelompok gajah ini di pimpin oleh seekor betina, sementara gajah jantan berada dalam kelompok hanya dalam periode tertentu saja.

Untuk gajah yang sudah tua pada umumnya akan memisahkan diri dari kelompoknya hingga akhirnya mereka mati. Gajah Sumatera ini begitu peka pada bunyi-bunyian, sementara itu untuk melakukan proses kawin gajah ini butuh suasana yang tenang dan nyaman. Dengan adanya suara seperti alat berat dan gergaji mesin, maka hal itu bisa mengganggu proses perkembang biakan mereka.

Kurang lebih seperti itulah pembahasan mengenai Gajah Sumatera, semoga ulasan ini bermanfaat dan bisa menambah wawasan anda nantinya mengenai dunia satwa yang beragam. Ketahui juga pembahasan lain mengenai jenis gajah di dunia dan persebarannya.